|
Oleh: Fahrur Mu'is Penulis Sedekah Tanpa Uang "Saya pembaca buku Sedekah Tanpa Uang asal Aceh. Berkat membaca buku itu, saya jadi bersemangat melakukan kebaikan." 085261673XXX
Setelah buku saya dicetak ribuan eksemplar, kadang-kadang muncul pertanyaan: siapa pembacanya? Pertanyaan ini sangat logis karena memang banyak penulis yang jarang bertatap muka dengan pembaca bukunya. Asumsi dasar mengatakan bahwa pembaca itu ada. Jumlahnya besar. Siapa pun tahu berapa jumlah penduduk Indonesia. Dalam hitungan bulan, pertanyaan itu mulai ada jawabnya. Beberapa pembaca mulai kirim Sandek 'pesan pendek'. Ada yang berterima kasih. Ada yang bertanya. Ada menyemangati. Ada yang curhat. Ada yang memberi masukan. Dan ada yang sedikit tertarik pada profil penulisnya. Semuanya bercampur aduk jadi satu. Dalam ruang dan waktu yang berbeda. Jujur, terkadang hal itu menambah motivasi dan mengaduk-aduk emosi. Ala kulli hal, saya senang mendapat masukan dari sana-sini. Secara pribadi, saya merasa harus bertanggung jawab pada publik. Atas apa? Atas apa yang saya tulis dan atas apa yang saya sampaikan. Dan yang terpenting, bagaimana kualitas tulisan ke depan lebih bagus. Karena hakikatnya semua 'Sandek' tersebut adalah sebuah peringatan: tingkatkan kualitas. Di sinilah pikiran saya dan pembaca bertemu. Dalam tempat yang bernama buku. Dalam ruang yang bernama pemikiran. Meskipun, jasad tak pernah bertemu dan rupa tak pernah terbayang. Namun, itu tidak menghalangi bibir untuk tersenyum dan kepala untuk geleng-geleng. Ya, ini terjadi jika ada yang membaca dan juga ada yang menulis. Lebih penting dari itu, bahasa, wawasan, perasaan, dan hati keduanya harus nyambung. Atau, minimal dibuat bagaimana bisa tersambung. Tentunya, agar manfaat yang didapat semakin besar. Favorit-kan! (51) | Kutip ke dalam situs anda | Dilihat: 429
Komentar oleh: adam, pada 13-02-2008 16:50
senyum teruuusss |
Komentar oleh: na, pada 14-02-2008 17:42
 |
Komentar oleh: arsya, pada 20-02-2008 16:26 tapi sayang, komunikasi penulis dan pembaca seringkali kurang lancar. dalam sebuah buku, seringkali cuma satu arah saja, yaitu dari penulis  |
Komentar oleh: guspur, pada 06-03-2008 20:28 ah, gitu aja kok repot. pilih buku yang komunikatif dong. berani nerbitin buku, harus berani jamin mutu! |
Komentar oleh: wi2k, pada 31-03-2008 14:29 mas, saya udah baca buku2 mas. Termasuk saya sudah shalat dhuha, bersedekah, dll. (Sebagian isi komentar telah dihilangkan untuk menghormati privasi penulis komentar-webmaster). |
Komentar oleh: azam, pada 10-04-2008 12:18 mas, jangan cuma dalam buku alias lewat darat. kalo perlu juga ketemu lewat udara, misalnya dibedah di radio, kan komunikasinya lebih hangat |
sedekah tanpa uang Komentar oleh: Abdul Latif A G, pada 14-04-2008 13:10
Alhamdulillah setelah baca buku ini saya dapat berintropeksi diri, salam buat temen2 d aqwam jolali makan2e......  |
Komentar oleh: afif, pada 22-04-2008 15:45 mohon dituliskan tentang motivasi menulis, ustad. |
Komentar oleh: nia, pada 22-04-2008 15:47 setuju. bisa jadi alternatif sedekah dengan harta, yang mbuat banyak orang awam salah niat. sedekah karena ingin kaya! |
Komentar oleh: mulah, pada 03-06-2008 19:49
sip, bisa ditindaklanjuti |
| - Silakan memberi komentar yang sesuai dengan artikel.
- Komentar menggunakan bahasa yang sopan, baik, dan tidak menyinggung orang lain.
- Semua komentar akan dimoderasi.
- *Refresh* browser anda untuk mendapatkan kode keamanan yang baru, jika anda kesulitan melihat kode keamanan yang ditampilkan.
| |