Mendapat stand terpencil di pojok sebenarnya bukan pilihan kami. Tetapi apa daya. Saat hendak membooking tempat, tempat yang tersisa tinggal beberapa. Hmm… OK-lah. "Tak boleh terus dininabobokkan oleh fasilitas, harus berani survive menerima tantangan," begitu tekad Mustarom, Kadiv Promo dan Project memotivasi tim pameran.
Seorang Bapak paruh baya mengamati sejenak di depan, sebelum akhirnya memutuskan diri untuk masuk ke stand. Senyum kami menyilakan beliau untuk melihat beberapa produk dan gift yang tersedia. Selang beberapa saat kami menghampirinya, menyapa, barangkali ada yang bisa kami bantu. Cas cis cus sebentar, Agus Junaidi penanggungjawab yang kebetulan waktu itu jaga di stand, mencoba menjelaskan beberapa judul buku. Apa jawab sang Bapak?
Tampilan stand menarik dan layanan petugas yang ramah dan cerdas? Harus itu… Tim operasional pameran memutuskan, misi keikutsertaan AQWAM dalam pameran ini adalah promosi brand, bukan murni jualan. Karenanya, tampilan stand di-drive abis untuk bisa menarik. Salah satunya adalah back-drop yang full mengkover bagian belakang stand.
Siang hari, pengunjung tak sepadat sore atau malam. Itu juga yang terjadi saat dua orang mahasiswa membolak-balik buku Misteri Shalat Subuh. "Sudah deh, 10 ribu boleh gak," tawar salah seorang dari mereka. "Oh, maaf belum boleh. Kami sedang promo, bukan berjualan," jawab Agus santun.
Sebagian besar produk AQWAM adalah terjemahan dari Timur Tengah. Selain karena kedalaman naskah yang belum bisa digeser produk lokal, otoritas penulis juga menjadi pertimbangan kami.
Direksi AQWAM mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Solo dan Jogja yang telah memberikan apresiasi tinggi terhadap keikutsertaan AQWAM pada pameran buku di dua kota tersebut. Tak lupa, terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya diberikan kepada seluruh tim kreatif AQWAM yang terlibat dalam menyukseskan pameran tersebut.